Singa Lapar v.s. Macan Ompong
November 1st, 2007 by Abdul Kadir
Apa yang dikatakan oleh mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam diskusi “Peningkatan Hubungan Indonesia dan Malaysia Menuju Tatanan Kehidupan Global yang Berkeadilan dan Bermartabat” di Habibie Center-Jakarta pada tanggal 29 Oktober 2007 (Media Indonesia, 30 Oktober 2007), memang cukup menarik untuk kita simak. Menurutnya, memanasnya hubungan Indonesia-Malaysia yang mengkristal menjadi sikap anti-Indonesia di negara jiran tersebut sesungguhnya tidak menggambarkan seluruh sikap rakyat Malaysia, melainkan hanyalah sikap dari kebijakan politik penguasa Malaysia saat ini. Artinya adalah bahwa apa yang dilakukan oleh Malaysia selama ini, sesungguhnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan (policy) Pemerintah Malaysia terhadap Indonesia! Yang lebih menarik dari pernyataannya adalah bahwa kondisi seperti itu diperparah dengan tidak adanya sikap tegas Pemerintah Indonesia.
Setelah Malaysia berhasil memenangkan sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan Desember 2002, mereka merasa di atas angin dan ingin terus menunjukkan kegagahannya di hadapan bangsa Indonesia. Awal tahun 2005 tentara dan polisi Malaysia mencoba mengusik wilayah Ambalat, dengan melakukan pengejaran dan penembakan kepada sejumlah kapal nelayan yang sedang menangkap ikan di laut Sulawesi, tepatnya di sekitar pulau Karang Unarang. Setelah kasusnya mereda, dua tahun kemudian sejak 24 Februari 2007 kapal perang dan pesawat Malaysia kembali berulah melanggar wilayah perairan dan udara Indonesia di kawasan tersebut. Tidak hanya wilayah perairan & udara yang dilanggarnya, wilayah daratan di perbatasan Kalimantan pun rawan diserobot oleh mereka .
Ulah Malaysia ternyata tidak berhenti pada “nafsu teritorial”. Hak-hak TKI yang seharusnya dilindungi, justru malah dilanggar. Tidak ada ketegasan sikap dari Pemerintah Malaysia dalam menindak pihak-pihak yang melakukan penganiayaan terhadap hak asasi para TKI. Karena kondisi pembiaran tersebut, kasus demi kasus terus saja terjadi secara berulang dan merugikan Indonesia. Setelah kasus penganiayaan terhadap wasit karate Indonesia oleh polisi Malaysia, pasukan Rela Malaysia berulah melakukan pelanggaran hak diplomatik seorang istri anggota Kedutaan Indonesia. Yang terakhir, Pemerintah Malaysia mengancam akan mengusir 70 ribu Warga Negara Indonesia yang tidak memiliki surat kewarganegaraan dan paspor, meskipun telah memegang Surat Akuan Pengenalan (SAP). Hanya dengan menunjukkan paspor asal negara, Pemerintah Malaysia akan memberikan Malaysian Permanent Resident (MYPR) sebagai bukti legal keberadaan mereka di negeri jiran tersebut. Bukan main-main, untuk menyelesaikan masalah ini Pemerintah Indonesia hanya diberi waktu 2 bulan! Artinya, setiap hari pihak KBRI di Malaysia harus dapat menyelesaikan 1000 - 1500 dokumen surat kewarganegaraan dan paspor. Sungguh fantastis! Jika tidak selesai seluruhnya, siap-siaplah kita mendengar berita miring lagi tentang ulah tetangga kita tersebut.
“Nafsu Seni & Budaya” Malaysia pun rupanya tidak mau kalah. Ketika mereka sudah tidak punya rasa percaya diri lagi dengan khasanah budaya mereka yang memang sangat minim, Kementerian Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia tidak tahu malu mengklaim lagu-lagu warisan seni Indonesia sebagai lagu rakyat Malaysia, seperti lagu “Rasa Sayange” dan “Burung Kakak Tua“, serta tanpa permisi menggunakan lagu “Indang Sungai Garinggiang” untuk mengiringi tarian yang dibawakan tim kesenian Malaysia dalam acara Asia Festival 2007 yang diikuti oleh Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia dan Malaysia, pada 12-14 Oktober di Osaka, Jepang. Seingat saya, lagu “Suriram”, dan “Injit-injit Semut” juga sudah turun-termurun menjadi lagu rakyat Indonesia. Belum lagi hasil karya budaya kita seperti batik, yang sudah lebih dulu dipatentkan mereka.
Inilah fenomena Singa Lapar ketika berhadapan dengan Macan Ompong. Apa yang dikatakan Anwar Ibrahim harusnya membuat Pemerintah Indonesia mau mengevaluasi dan mengaca diri, sampai kapan Bapak-bapak akan terus menjadi Macan Ompong???
Wallahu a’alam.
