Definisi Tahun ke-0 Proyek Migas
September 17th, 2007 by Abdul Kadir
Menghitung keekonomian lapangan migas (baca: kontrak bagi hasil) memang gampang-gampang susah. Dibilang gampang, karena formulanya sudah ada dan tinggal kita ikuti saja flow perhitungannya. Karena begitu “gampang”-nya, sampai-sampai ada dosen Teknik Perminyakan yang menganggap bahwa ilmu Ekonomi Migas hanya berurusan dengan masalah tambah-kurang-kali dan bagi. Dibilang susah, karena siapapun yang telah sering menghitung akan tetap bingung jika tidak mengerti filosofi dari perhitungan tersebut (kontrak bagi hasil).
Ada satu hal prinsip yang harus dipahami, sebelum kita menghitung keekonomian lapangan/blok migas. Hal prinsip tersebut adalah mendefinisikan tahun ke-0 proyek. Sebagaimana kita ketahui, kegiatan usaha hulu migas terdiri dari 3 tahapan; eksplorasi, pengembangan, dan produksi. Sebelum kita melakukan perhitungan, persepsi tahun ke-0 harus kita samakan dulu, apakah awal eksplorasi, pengembangan, atau produksi. Saya tidak tahu persis, apakah BPMIGAS punya SOP atau paling tidak rule of thumb tentang hal ini atau tidak. Kenyataannya, tidak sedikit perhitungan keekonomian POD dibuat oleh kontraktor dengan persepsi tahun ke-0 yang berbeda-beda. Perbedaan persepsi tersebut, tentunya akan menimbulkan perbedaan kebijakan yang harus diambil oleh kontraktor maupun BPMIGAS.
Di bawah ini saya tampilkan hasil perhitungan IRR dan NPV dari berbagai persepsi tahun ke-0 yang digunakan oleh kontraktor. Jika tahun ke-0 dipersepsikan sebagai tahun awal eksplorasi, IRR dan NPV yang dihasilkan masing-masing adalah 17.67% dan 15.53 MMUS$. Jika tahun ke-0 dipersepsikan sebagai tahun awal development, IRR dan NPV yang dihasilkan masing-masing adalah 21.75% dan 63.37 MMUS$. Dan jika tahun ke-0 dipersepsikan sebagai tahun awal produksi, IRR dan NPV yang dihasilkan masing-masing adalah 37.91% dan 149.38 MMUS$.
Tabel 1. Harga IRR dan NPV pada Berbagai Persepsi Tahun ke-0
Seharusnya BPMIGAS sudah memiliki Standar Prosedur untuk perhitungan keekonomian lapangan/blok migas, agar kontraktor atau konsultannya tidak membuat perhitungan “sesukanya”. Tanpa SOP, siapa yang bisa menjamin perhitungan mereka sudah benar? Atau jangan-jangan, perhitungan saya juga salah….???
Wallaahu a’lam


Pak Kadir,
Saya kira alternatif 1 dan 2 tidak ada yang salah, alternatif 3 saya kira tidak tepat (tidak sesuai dengan konsep timing of cash flow). Alternatif 1 untuk melihat full cycle, alternatif 2 yang biasa digunakan di POD.
CMIIW, menurut saya untuk analisa investasi, tahun ke-0 itu ya tahun mulai kita investasi, kalau kita keluar duit sekarang, maka tahun-0 ya sekarang ini.
Tentu untuk POD, karena menyangkut keputusan untuk pengembangan, maka tahun-0 itu ketika mulai keluar biaya untuk pengembangan.
Kalau dalam konsep akuntansi manajemen, sebenarnya exploration cost itu adalah sunk cost, artinya besarnya cost ini tidak relevan terhadap proses pengambilan keputusan berikutnya. Selama ada profit dari biaya biaya yang akan dikeluarkan (dev cost dan opex), maka proyeknya harus “GO”, regardless biaya eksplorasi…
Tapi dalam perhitungan keekonomian PSC, karena ada mekanisme cost recovery, maka exploration cost ini masuk “cost pool” untuk di recovered.
Beda persepsi, beda juga urusan duitnya. Tanya KENNN … NAPA?!
Pak Bi’el, ada sedikit cerita yang perlu saya sharing ke Anda mengenai hal ini:
Pak Pri, perbedaan persepsi tahun ke-0 tidak menimbulkan perbedaan dalam hal uang yang diterima oleh kedua belah pihak (Kontraktor dan Pemerintah). Alternatif-1, 2, dan 3 tetap memberikan jumlah uang (total take) yang sama. Yang berbeda adalah nilai sekarang bersihnya (Net Present Valuenya). Karena perbedaan NPV yang dihasilkan, keputusan pun akan berbeda. Coba bayangkan kalau si A menghitung dengan alternatif-1 menghasilkan NPV negatif dan si B menghitung dengan alternatif-2 menghasilkan NPV positif. Jika persepsinya tidak disamakan, keputusannya khan akan kacau? Padahal, kueh yang mau diambil sama.
Mengenai SOP POD saya kira BP Migas (mungkin) punya, tapi untuk perhitungan keekonomian saya kira tidak dijabarkan secara detail karena mengacu kepada konsep perhitungan project economics secara umum saja. Memang bisa jadi perdebatan perlu atau tidak detail SOP, terlalu detail juga sebenarnya dapat menyulitkan.
Sebagai contoh: bisa saja saya “tidak setuju” dengan Anda, kenapa development cost AWAL dimasukkan ke tahun 1, kenapa tidak dimasukkan ke tahun 0? (digabungkan dengan akumulasi exploration cost). Kalau saya buatkan detail SOP-nya, yang lain belum tentu sepakat, dengan argumentai yang masuk akal juga. Saya kira tugas bagian keekonomian BP Migas untuk me review case by case.
Kalau kita melebar sedikit, SOP keekonomian tentu menyangkut harga minyak, bagaimana dengan forecast harga minyak, siapa yang menetapkan?, apakah harus flat?, apa harus eskalasi?. Apakah besarnya discount factor juga harus ditetapkan BP Migas (maksudnya diatur dalam SOP)?. Menurut saya pribadi, tidak perlu ditetapkan yang mana yang harus dipakai, nanti BPMigas, bisa saja minta tambahan “case case tertentu”, disinilah gunanya sensitivity analysis, daripada “memaksa” KKKS untuk menggunakan suatu metoda yang belum tentu mutlak benar, karena semuanya serba dinamis.
Saya rasa teman-teman di KKKS tidak akan berpikir sejelimet yang Anda bayangkan deh… Kalau Anda lihat SOP Perhitungan Keekonomian (maaf Pak Bi’el, saya tidak menyinggung SOP POD) yang dibuat tahun 2002 oleh Pertamina, saya yakin teman-teman di KKKS akan merasa terbantu. Mungkin tinggal dilakukan sedikit penyempurnaan saja. Tapi untuk orang seperti Pak Bi’el, kayaknya SOP tersebut tidak terlalu perlu.
Kalau kita menghitung keekonomian dengan spreadsheet, biaya yang kita skedulkan bulan Januari akan diperlakukan sama dengan bulan Desember sebagai biaya satu tahun tertentu. Semuanya akan di-sum dan didiscount dengan discount yang sama, karena Excel menggunakan end of year analysis. Harusnya memang dibedakan supaya lebih valid seperti software OGRE, tapi akan mempersulit diri kita aja Pak.
Mengapa perlu SOP? Kalau BPMIGAS mau memberikan insentif untuk proyek dengan IRR di bawah nilai tertentu, muncul pertanyaan IRR yang mana? Kita jangan skeptis dulu lah Pak Bi’el. Coba kita kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, betapapun kita telah kelebihan banyak informasi. OK Pak Bi’el? Salam buat teman-teman.
Kalau untuk menghitung IRR dalam rangka memperoleh insentif, kalau nggak salah BPMigas pernah mengeluarkan SOP nya (CMIIW), waktu itu tahun 2005, dikeluarkan insentif lapangan marginal, dimana insentif nya akan ON dan OFF tergantung IRR, nah disitu ada SOP perhitungan IRR.
Masalahnya SOP keekonomian itu khan nggak cuma penentuan masalah tahun ke 0 dan metoda perhitungan IRR, tapi banyak aspek lain spt saya sebut sebelumnya: spt oil prices forecast, flat/escalation, discount factor, etc. Kalau semuanya ditentukan dalam SOP, misalnya saja discount factor = 10%, kenapa 10%, kenapa tidak 12%, apa KKKS yang pakai 12% harus dilarang.. apa dasar kita menetapkan 10%, ini sekedar contoh kesulitan membuat SOP. Begitu juga kalau kita buat SOP untuk forsecast harga minyak, pakai punya siapa? apa diserahkan ke masing company?., Makanya saya pikir, untuk kasus2 umum, nggak perlu SOP, (kecuali untuk case case tertentu spt insentif marginal diatas, dimana harga minyak untuk run economics ditentukan sebesar 25 $ per barrel, perlu addendum cara perhitungan IRR supaya seragam). Saya percaya temen KKKS lebih canggih membuat perhitungan keekonomian dari teman2 BP Migas he he. Selamat berpuasa, salam juga buat teman2.
“Saya percaya temen KKKS lebih canggih membuat perhitungan keekonomian dari teman2 BP Migas he he.” Ini di luar tanggung jawab IPW ya, he he..
Saya yakin, Anda sudah sering presentasi POD di BPMIGAS. Kalau Anda simak kesalahan-kesalahan yang disoroti oleh mereka, selalu kesalahan yang itu-itu juga baik menyangkut G&G, reservoar, maupun keekonomian. Dalam ilmu manajemen, ketika pihak Manajemen menemukan kesalahan sama yang berulang-ulang solusinya adalah SOP.
Perbedaan-perbedaan yang terjadi justru semakin menguatkan untuk dibuatnya SOP, apalagi dengan adanya kesalahan yang berulang-ulang tersebut. Pihak Manajemen punya kewenangan penuh dalam hal ini. Apalagi jika yang Anda katakan bahwa temen KKKS lebih canggih, benar adanya?